Mengenal Playing Victim Dalam Politik, Istilah Yang Muncul Sejak Kuno

Mengenal Playing Victim Dalam Politik, Istilah Yang Muncul Sejak Kuno

Di lansir dair edno23.com, hasil ketok palu Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Hotel The Hill, Sibolangit, Deli Serdang, Sumatra Utara pada Jumat, 5 Maret 2021, yang secara aklamasi memilih Moeldoko sebagai ketua umum Demokrat masa jabatan 2021-2025 terus menuai kontroversi.

Moeldoko Cs dianggap membajak kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang menjadi ketua umum Partai Demokrat secara sah menurut aturan partai berlambang bintang mercy itu.

Keabsahan kepemimpinan AHY telah diperkuat keputusan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), yang menolak hasil KLB Demokrat kubu Moeldoko.

Sementara, di tengah kisruh Partai Demokrat, beberapa pihak berspekulasi ada desain politik yang digaungkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ‘roh’ partai ini.

SBY dinilai menggunakan jurus lama, playing victim, untuk mendapatkan simpati masyarakat, agar bendera Demokrat kembali berkibar menjelang pemilu 2024.

Sebenarnya seperti apa istilah playing victim dalam pandangan politik? Di kutip dari IDN Poker APK, berikut ini beberapa uraiannya.

1. Makna istilah playing victim

Playing victim secara etimologi berasal dari bahasa Inggris, playing artinya bermain dan victim yang artinya korban. Bermain korban. Maksudnya seseorang bersikap seolah-olah sebagai korban, dengan mengutarakan berbagai alasan sebagai pembenaran di hadapan orang lain.

Istilah ini kerap di gunakan dalam berbagai situasi, seperti saat seseorang terlibat perkelahian. Saat di minta menjelaskan situasi yang terjadi, seorang yang melakukan playing victim akan berlagak seperti seseorang yang di serang dan hanya melakukan perlawanan balik untuk memberi perlindungan terhadap diri sendiri, meskipun kenyataannya tidak demikian.

2. Praktik playing victim sudah ada sejak lama sebagai strategi berperang

Merujuk pada buku Seni Perang dan 36 Strategi karya Sun Tzu–penggagas seni perang dari Tiongkok, menjelaskan konsep playing victim dalam strategi perang: dalam strategi ke-34 sub bab Strategi Kalah, “Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh (masuk ke dalam jebakan, jadilah umpan)”.

Sun Tzu menjelaskan dengan berpura-pura terluka bisa menimbulkan dua kemungkinan. Pertama, musuh akan bersantai sejenak karena dia tidak memandang kita sebagai ancaman serius. Kedua, jilat musuh dengan berpura-pura terluka, sehingga musuh merasa aman.

Gampangnya, kita dapat menyebut strategi ini sebagai strategi mengelabui dan memanipulasi keagresifan musuh. Praktik playing victim ini sudah di terapkan Sun Tzu sejak ratusan tahun yang lalu, atau sekitar 544-496 SM.

Sun Tzu sendiri seorang jenderal, ahli strategi militer, penulis, sekaligus filsuf Tiongkok yang hidup pada periode Zhou Timur Tiongkok kuno. Sun Tzu secara tradisional di kreditkan sebagai penulis Seni Perang, sebuah karya strategi militer yang memengaruhi filosofi dan pemikiran militer Barat dan Asia Timur.